Belajar Menjadi Lebih Baik dalam Berpandangan dan bersikap hidup dengan AQMSR

Di bawah ini berisi materi materi tentang pengkajian yang saya ikuti yang tentunya dengan tujuan untuk mencapai hidup jannah di Dunia yang akan otomatis akan di peroleh di Hari akhir kelak..seperti yang sudah di contohkan oleh Para Nabi dan Rosul2 Kita

Assalamualaikum wr wb,

Sebelum kita berlanjut kepada materi basic yg akan disampaikan oleh mentor kita, mari kita sedikit menyimak …. apa itu aqmsr ( Al Qur’an menurut sunah Rasul ) dan mengapa harus menurut sunah Rasul.

Coba di simak dialog antara orang tua dengan anak nya.

Anak : ” pak, kata nya Islam terbagi menjadikan 73 golongan, cuma 1 yg diterima oleh Allah.
Terus …… Kalau melihat kenyataan golongan umat Islam bug satu dengan lain Nya tidak ada saling kecocokan, contohnya ” menentukan bulan puasa aja, Gol A dengan Gol B tidak pas, atau kenapa GoL C nyerang Gol D, kan semua kata Nya berpegang teguh dengan Alquran dan Sunnah Rasulullah.
Kenapa pah …..?? …..
Ot : ” sebelum bapak jawab, boleh bapak bertanya pada kalian ?? …
Anak : ” boleh …….. !!
Ot : ” kenapa kalian harus beragama ,?? …… ”
Anak : ” Agar ada pedoman hidup, untuk mengabdi kepada sang pencipta ….
Ot : ” cakap….. 👍 ….. Kalau tujuan nya untuk mengabdi kepada sang pencipta, kenapa musti banyak Cara ?? …..
Anak : ” koq cara pak ,?? ….
Ot : ” Loh ibadah Itu bukan kah cara untuk mengabdi kepada sang pencipta ?? …..
Cara Agama A ibadah Nya begini, Agama B, C, D begitu ……. Bukan kah Itu cara ?? …..
Anak : ” .. oh iya ……
Ot : ” ….. Nah kenapa banyak Cara ?? ……..
Anak : ” …. Itu kan ….. Kepercayaan dan keyakinan nya masing masing pak ……
Ot : ” …. Oke ….. Kata2 Yaqin dan percaya identik tidak dengan kata kata ” *IMAN* ” ??? ……
Anak : ” … Iyaa …. Iman = percaya = keyakinan.
Ot : ” … Kalau Iman = percaya = keyakinan,
Jadi Depinisi pengertian orang beriman itu bagaimana ,?? ……
Anak : ” ….. 😇 …???? …… Gimana pak ?? …….
Ot : ” .. kalau pengertian iman = percaya, Yaqin, berarti Depinisi orang beriman ialah : ” orang yg berbuat dan bertindak dlm rangka mengabdi kepada sang pencipta nya dlm rangka mempedomani hidupnya berdasarkan keyakinan Dan kepercayaan nya masing-masing ”
Begitu bukan ..?? ….
Anak : ” ……iya ……..😇🙂🙃
Ot : ” .. berarti …. Semua orang beriman dong ……?? ……….
Karena berdasarkan keyakinan Nya masing masing.
Pertanyaan BPK yg paling besar .. ,❓❓❓
Agama yg mana yg diterima disisi Tuhan/Allah Nya. ?? …..
Anak : ” …. Islam ………
Ot : ” …. Loh Itu … Menurut kalian yg bapak Nya orang Islam, kalau kata si Friedric, kalau kata si Made, atau kata Lee kank nio …. pasti…. Agama dia juga yg diterima disisi Tuhan Nya.
Yang mana kalau gitu yg diterima disisi Tuhan Nya .??? ……..
Anak : ” …. Yg mana kalau gitu ….pak ?? ….
Ot : ” …… Ini BPK ada hp dua buah, yg satu warna nya hitam, yg satunya warna nya creem, mana…..yg merk Nokia ,?? …….
Anak : ” …. Itu ….yg warnanya hitam, …….👉📱 …..”
Ot : ” ……loh ini kan cuma lambang aja, n o k i a …. Bisa ga di ganti dengan tulisan lain misalnya ” s a m s u n g ” …… Atau nama lainnya ….?? ….
Anak : ” ….. Bisa ……
Ot : ” ….. nah kalau begitu ….. gimana cara Nya dapetin itu benar atau salah .. ?? …..
Anak : …..???? …. …..🤭😇 Gimana pak …..?? …
Ot : ” …. Waktu kalian beli hp ….. Ada tdk, buku pedoman/panduan dari hp tersebut ….?? …..
Anak : ” ….. Ada …….. ??…
Ot : ” …. Nah…. Kamu baca dan kamu pelajari panduan Nya Itu, setelah kita tahu ……oh betul Ini hp yg bermerk Nokia, nah begitu apa yg di katakan dlm Al Qur’an ,” ….. Inaha Kalimatun huwwa qailuha ” …… Sesungguhnya kalimat, statemen, gagasan, teori itu ( benar atau salah) kembalikan kepada siapa yg mengatakan Nya, nah karena ilmu itu dari Allah, maka semua istilah dikembalikan ke Allah, dalam hal ini Al Qur’an menurut sunah Rasul Nya.

Persoalan diatas 👆 adalah benar persoalan iman, maka oleh dari Itu masalah iman kembalikan kepada istilah Al-Qur’an MSR nya.

Yuk …. Kita mulai kajian dasar ….. Pengertian iman berdasar kan Al Qur’an MSR nya.

☪💥Materi Pengantar Study Alquran MSR Sessi -I

🎁باسم اللّٰه الرحمان الرحيم🎁

*M U K A D D I M A H*

🎁”JANNAH” adalah istilah yang Allah gunakan utk menggambarkan kemakmuran hidup melimpah sejahtera yg didalamnya penuh dg fasilitas pemuas kehidupan, sebagai karunia dari Allah yg tidak putus2nya, ibarat taman yg dialiri mata air yg tdk pernah kering, sehingga menghasilkan panen melimpah ruah. “Gemah ripah Loh jinawi Toto tentrem Kerto raharjo”.

✍ ☪”JANNAH” didalam kehidupan ini dibangun oleh para Rasul/Nabi dan para pendukungnya yaitu org2. Yg beriman sebagai pelaksanaan perintah Allah swt.

“JANNAH” sebagai tujuan hidup hasanah adalah imbalan hidup berganda untuk para Nabi/Rasul dan orang2 yg beriman.

✍ ☪”JANNAH” ada 2, yaitu di Dunia dan di Akhirat. Jannah diakhirat adalah otomatisasi dari Jannah di dunia.

Bedakan antara “JANNAH” dg “SORGA (Swargaloka), NIRWANA & KAHYANGAN”.

✍ ☪Jannah pernah berwujud pada masa tampilnya para Rasul/Nabi dan org2 beriman yg mendukungnya.

💥Sorga, Nirwana & Kahyangan hanya ada didalam angan2 tak pernah berwujud dalam kehidupan.

✍ ☪Sabda Nabi saw : “Didunia ini ada “JANNAH”. Siapa yg tdk memasukinya didunia ini niscaya dia tdk bakal memasuki Jannah di akhirat kelak”.

✍ ☪Sejalan dg hadits lain yg berbunyi :

“Kehidupan di dunia adalah cermin pemantul kehidupan akhirat”.

Refr.: S.Albaqarah 25, 35-36, S.Arrahman 46, S.Al-Waqi’ah, S.Al-Ahzab 56, dll.

✍ 💥Istilah “NAAR” didalam Alquran digunakan Allah untuk menggambarkan kehidupan saling baku hantam, saling jegal, saling sikut, saling todong, peras memeras, saling tipu saling licik, saling memiskinkan didalam mencapai tujuan hidup didunia ini.

“NAAR” merupakan konsekwensi hidup bagi org2 yg tdk mau beriman dan di akhirat kelak Allah akan menimpakan azab/siksa yg sangat pedih. Refr. : S.Albaqarah 36, S.Al-A’raf 24, S.Thaha 32, S.Al-Ahzab 26, S.Baraah 85-87, S.Alqalam 19, S.Annahl 71, S.Al-Ankabut 12, dll.

✍ ☪Bagai mana mencapai “HIDUP JANNAH” di dunia?.

Syarat utamanya adalah harus BERIMAN. Akan tetapi Surat Asysyura 52 menegaskan bahwa : “…Tdk ada Iman tanpa memahami/menguasai isi kitab (Alquran)…”.

☝ Jadi secara mutlak setiap orang yg mau beriman haruslah memahami isi Alquran…!!

Seseorang yg mengaku beriman tapi dia tidak memahami/menguasai Alquran berarti dia telah melakukan kebohongan.

Refr.: S.Asysyura 52, S.Albaqarah 8-16, dll.

Sampai disini ternyata utk mencapai “Hidup Jannah” di dunia dan akhirat ditentukan oleh IMAN, sedangkan utk mendapatkan Iman itu seseorang harus memahami / menguasai Alquran.

Jadi persoalan Iman dan bagaimana cara memahami/menguasai Alquran merupakan kesatuan yg penjelasannya tdk bisa dipisahkan.

✳TENTANG ALQURAN✳

✍ 💥Alquran adalah ILMU S.Arrahman 1-13 menjelaskan bahwa Alquran adalah ILMU, yakni “Rangkaian keterangan teratur yg didukung oleh fakta yg tergantung kepada Allah”.

✍ 💥Alquran adalah RANCANGAN / KONSEPSI KEHIDUPAN. S.Al-Qadar menjelaskan bahwa Alquran adalah Rancangan Kehidupan / Konsepsi Kehidupan yg nilainya lebih hebat dibanding 1000 bulan hatta karya sarjana paling mahir sekalipun didalam kehidupan didunia ini.

💥Bayangkan..!!💥

Ada berapa Universitas didunia ini..??, berapa banyak sarjana yang dihasilkan setiap tahunnya dari berbagsi strata dan disiplin keilmuan..?, berapa jumlah sarjana didunia ini secara keseluruhan selama 1000 bulan (83 Thn / 1 Abad)..??, berapa banyak karya tulis dan disertasi yg mereka hasilksn selama 1000 bulan itu..??

✍ ☪Menurut penegasan Allah dalam S.Albaqarah 23-24 “..pasti mereka tidak akan mampu menandingi kehebatan Alquran sebagai satu konsepsi yg bisa menghantarkan manusia kearah kehidupan “Jannah” (Hasanah di Dunia dan di Akhirat kelak)..!!” ALLAHU. AKBAR…!!”.

* Alquran adalah DOKTRIN / PETUNJUK /PEDOMAN HIDUP. S.Albaqarah ayat 2 menjelaskan bahwa Alquran, isinya tdk diragukan lagi sebagai doktrin /petunjuk / pedoman hidup bagi orang yg hidup patuh dg ajaran Allah (Alquran).

✍ ☪Nabi Muhammad saw mengingat kan ummatnya dalam satu hadits : “Sungguh telah aku tinggalkan dalam kehidupan kalian 2 hal, yg apabila kalian memegang teguh keduanya niscaya kalian

tdk akan sesat selamanya, yaitu Kitabullah (Alquran) dan Sunnah Rasul-NYA”. Refr.: S.Annisa 59, dll.

Hadits diatas menegaskan kepada siapa saja yang mengaku sebagai ummat Nabi Muhammad, apakah dia masyarakat awam atau Ustadz, Kyai atau ulama, para tokoh atau pemimpin ummat hendaklah senantiasa selalu berpegang dg Alquran dan Sunnah Rasul agar tidak sesat bahkan agar tdk menyesatkan orang lain. Konsekwensinya maka setiap yg mengaku sebagai ummat Nabi Muhammad saw wajib/harus bisa memahami / menguasai Alquran…..!!!, sehingga wajib pula mempelajari Alquran…!!

✍ ☪Adapun Istilah “SUNNAH RASUL” adalah sbb : SUNNAH artinya ; Tradisi, Kebiasaan, Ahlak, Perilaku, Gaya hidup, Cara hidup, dll.

✍ ✅RASUL adalah nabi pembawa misi dari Allah utk menyampaikan Ajaran-NYA kepada seluruh manusia dalam hal ini adalah Nabi Muhammad saw yang sekaligus menjadi pola/contoh/teladan bagi kehidupan manusia.

Jadi “SUNNAH RASUL” adalah cara hidup, gaya hidup menurut ajaran Allah yang dicontohkan oleh Rasul. Adapun hadits ialah bagian dari pada Sunnah Rasul.

✍ ✅Dalam S.An-Najm Allah menegaskan bahwa nabi Muhammad tdk berkata atau berbuat apapun, kecuali atas bimbingan Wahyu.

✍ ✳KESIMPULAN

a.Untuk mendapatkan “JANNAH” syaratnya harus ber-IMAN.

b. Untuk mendapatkan IMAN, mutlak harus memahami/mengusai Alquran. c. Untuk memahami / menguasai Alquran maka setiap orang yg mau beriman mau tidak mau harus mempelajari BAHASA & MAKNA Alquran.

*Agar tidak tersesat dalam mempelajari Alquran kita harus berpegang kepada hadits Nabi tersebut diatas, yakni harus mengikuti ketentuan Alquran & Sunnah Rasul.

Bagaimana cara mempelajari Bahasa dan Makna Alquran?. akan kita bahas pada pembicaraan selanjutnya…….!

✍ ✳Sebelumnya sudah dijelaskan bahwa betapa pentingnya mempelajari Alquran yang isinya merupakan rancangan hidup atau konsepsi hidup, atau petunjuk/pedoman hidup, bahkan Alquran juga adalah Ilmu untuk digunakan dalam kehidupan manusia pada umumnya, khususnya buat orang2 yg mau beriman. Apalagi Allah sdh menandaskan didalam Alquran S.Asysyura 52 bhw “…tdk memahami / menguasai isi kitab (Alquran) niscaya anda tdk beriman…”. Sehingga mempelajari Alquran mutlak menjadi kewajiban bagi siapapun yang mau beriman..!!.

Pertanyaan : Apakah anda sudah beriman..?, apa arti Iman menurut anda..? Tidak perlu dijawab..!!, nanti akan terjawab dg sendirinya jika anda terus mengikuti pemaparan ini..!”

Sejalan dgn perintah Allah dlm S. Al’Alaq ayat 1-5 yaitu : “Bacalah..!! dst. “. Begitu kita buka Alquran maka kita terbentur pada 2 masalah :
✅1. Persoalan bahasa dan
✅2. Persoalan makna Alquran.

Selanjutnya pembahasan akan kita mulai dari Arti Kata Iman

💥 *SESSION-II*💥

‼ *1. Arti Kata Iman*
Asal perkataan Iman (إِيْمَانٌ) menurut bahasa adalah Masdar (akar kata) dari Kata Kerja, آمَنَ artinya telah
beriman, يُؤْمِنُ artinya akan/ sedang/ lagi beriman. إِيْمَانًا Artinya beriman dan مُؤْمِنٌ = Kata Pelaku,
artinya orang yang beriman. Dengan demikian menjadi jelas bahwa arti yang konkrit dari Kata Kerja, يُؤْمِنُ , آمَنَ , مُؤْمٌِ،
sangat tergantung kepada pemecahan arti perkataan, إِيْمَانًا .

Dilihat dari teori pembentukannya maka kata kerja آمَنَ adalah kata kerja tiga huruf yang mendapatkan
tambahan satu hurup yang istilah pesantrennya adalah ثُلاَثِيٌ مَزِيْدٌ.
Ilmu Sharaf dalam hal teori bentuk kata memberikan dua kemungkinan tentang asal pembentukan istilah آمَنَ.
kemungkinan pertama bisa dibentuk dari kata kerja Tiga Huruf Pokok ثُلاَثِيٌ مُجَرَّدٌ yaitu dari kata
أَمِنَ، أَمَنَ، أَمُنَ
yang artinya : “Percaya, Teguh, Tenang”.

Kemungkinan lain bisa juga dibentuk dari Kata
Benda yaitu dari kata إِيْمَانٌ yang artinya dijelaskan oleh hadits riwayat Ibnu Majah sebagai berikut :
ألاِْيْمُنُ عَقْدٌ بِالْقَلْبِ وَ إِِقْرَارٌ بِللِسَان وَ عَمَلٌ بالاَْرْكَانَِِِ
Artinya :
“Iman ialah tambatan hati yang menggema kedalam seluruh ucapan dan menjelma kedalam segenap laku perbuatan”.

Jadi masing-masing kemungkinan tersebut diatas membawa konsekwensi ruang lingkup pengertian yang sangat berbeda dan tajam kepada Istilah Iman.

*2. Ruang Lingkup Iman*
Hadist yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah menjelaskan tentang Ruang Lingkup Iman/ Istilah
Iman tersebut demikian :
الاِْيْمَانُ عَقْدٌ بِالْقلْبِ وَ إِقْرَارٌ بِلْلسَانِ وَعَمَلٌ بِلاَْرْكَانِِ
Artinya :
“Iman itu ialah tambatan hati, selanjutnya menggema kedalam berbagai ungkapan, yang akhirnya
mempola/ menjelma kedalam seluruh laku perbuatan”.

Juga Hadist yang diriwayatkan oleh Bukhari Muslim menjelaskan demikian :
الاِْيْمَانُ تَصْدِيْقٌ بِالْجِنًا وَ إِقْرَارٌ بِالْلِسَانِ وَ عَمَلٌ بِالاَْرْكَانِ
Serta Hadist Riwayat Thabrani berbunyi demikian :
الاِْيْمَانُ مَعْرِفَةٌ فِيْالْقَلْبِ وَ إِقْرَارٌ بالْلِسَانِ وَ عَمَلٌ بِالاَْرْكَانِ
Dengan pembuktian ketiga Hadist tersebut diatas menjadi jelas bahwa Ruang Lingkup Iman/
Istilah Iman, menurut Al-Quran dengan praktek kehidupan Rasul, mencakup tiga aspek kehidupan
manusia, yaitu meliputi Isi Hati, seluruh Ucapan dan segenap Laku Perbuatan.

Ketiga-tiga aspek tersebut yaitu isi hati/ ketetapan hati, seluruh ucapan dan segenap laku perbuatan
adalah *satu kebulatan hidup manusia dalam arti Kebudayaan dan Peradaban*. Dan untuk lebih ringkas
maka bagian isi hati dan ucapan yang memberi penilaian dan pandangan, misalnya “Matahari berputar
tetap pada sumbunya…” kita simpulkan menjadi *PANDANGAN HIDUP*, sedangkan bagian lain dari
isi/ ketetapan hati dan ucapan yang mengenai dan mencakup seluruh laku perbuatan yang mengujudkan
gerak berbuat dalam keseluruhan hidup manusia kita simpulkan menjadi *SIKAP HIDUP*.

Dengan demikian, untuk lebih singkat dan mendekati hakikatnya, maka Hadist tersebut diatas kita
terjemahkan menjadi : Iman adalah Pandangan dan Sikap Hidup.

☄ _Bandingkan dengan Prof. Bouman, Sosiologi Pengertian dan Masalah, Jakarta 1950-an_

Jikalau demikian dapatkah dikatakan bahwa istilah Ideology itu secara umum senilai dengan istilah Iman?

☄Bandingkan dengan buku Ensiklopedi Indonesia, karya *Adi Negoro, 1954* Hal : 168 yaitu IDIOLOGY adalah
Pandangan Hidup , Dasar Pendirian tentang penghidupan manusia, masyarakat, Negara, Dunia dan Akherat.

Ruang Lingkup Iman sebagai Pandangan dan Sikap hidup ini dengan perkataan lain, oleh Surat Al�Baqarah ayat 165 merumuskan sebagai berikut :

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَّتَّخِذُ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ اَنْدَادًا يُّحِبُّوْنَهُمْ كَحُبِّ اللّٰهِ ؕ وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَشَدُّ حُبًّا لِّلّٰهِ ؕ وَلَوْ يَرَى الَّذِيْنَ ظَلَمُوْٓا اِذْ يَرَوْنَ الْعَذَابَ ۙ اَنَّ الْقُوَّةَ لِلّٰهِ جَمِيْعًا ۙ وَّاَنَّ اللّٰهَ شَدِيْدُ الْعَذَابِ
Artinya :
“Dan sebagian manusia adalah orang yang memperlakukan hidupnya dengan selain ajaran Allah,
Al-Quran menurut Sunnah Rasul-Nya, menj

adi Pembina Pandangan dan Sikap Hidupnya. Mereka
mencintai yang demikian itu seperti mencintai ajaran Allah Menurut Sunnah Rasul-Nya. Tapi yang benar�benar ber-Iman (hidup berpandangan dan bersikap dengan Al-Quran menurut Sunnah Rasul) adalah *sangat rindu untuk hidup dengan ajaran Allah menurut Sunnah Rasul-Nya*. Dan jikalaulah yang berlaku
Dzulumat itu sudi melihat (dengan pandangan Al-Quran menurut Sunnah Rasul) niscaya pada saat itu juga
akan melihat laku perbuatan Dzulumat MSSY adalah satu siksa nestapa. Bahwa sebenarnya kekuatan
hidup tangguh itu adalah dengan ajaran Allah menurut Sunnah Rasul-Nya secara bulat. Dan Allah, dengan
pembuktian al-Quran menurut Sunnah Rasul-Nya adalah pembalas kehidupan sangat jahat atas pilihan
Dzulumat MSSY biadab”.

Dengan demikian, maka Hadist tersebut yang melukiskan istilah Iman ialah Pandangan dan
Sikap Hidup sama dengan Sangat Rindu untuk Hidup atau *“Di Puncak Kerinduan”* atau *Dilambung
Cinta/Rindu* untuk hidup dengan ajaran Allah yakni Al-Quran menurut Sunnah Rasul ini.

Dan sebagai perbandingan, guna memperoleh satu penghayatan yang kongkrit, ambil sajalah contoh
seorang Pemuda dan Pemudi atau masing-masing kita yang sudah berumah tangga, selagi mau
membentuk rumah tangga, yang sedang dilanda asmara, dilambung cinta yaitu ingin hidup berumah
tangga yang sudah tidak bisa ditawar-tawar lagi. Hal yang demikian kadang-kadang juga disebut *“Mabuk Asmara”* atau “Dilambung Cinta” atau “Gila Cinta/Gila Asmara”, tetapi yang dimaksud yang terakhir ini
pasti bukan GILA yang mengandung arti Sakit Syaraf.

Demikianlah konsekwensinya bila kata kerja آمَنَ, يُؤْمِنُ , مُؤْمِنٌ alternatip pembentukannya dari Isim (Kata Benda) berdasarkan penjelasan hadits tersebut diatas yang pasti pengertiannya bertolak
belakang jika alternatip pembentukannya adalah dari kata kerja Tiga Huruf Pokok.

Sudah kita petik dari Alkitab Perjanjian Baru bahwa “Iman=Percaya”, begitu juga Doktor Hamka,
M. Hasbi Ashshiddiqy dan Syekh Muhammad Abduh, kesemuanya itu dari satu sudut adalah representatip
dari alternatip bentuk kata “Iman” dari kata kerja tiga hurup Pokok sehingga berarti “Iman=Percaya”, jadi
bukan hadits atau tidak menurut sunnah Rasul.
Dari sudut lain, juga yang sudah kita petik M. Hasbi Ashshiddiqy menggusur dan merobek totalitas *gaya hidup* yaitu “Iman ialah Pandangan dan Sikap hidup” sehingga “Aqdun bilqalbi (Af’idah)” sebagai
aspek pokok dan yang paling vital untuk Kehidupan “Iman” dibikin menjadi hanya sekedar satu cabang
dan ranting belaka.

Sebaliknya “Ad-Dinul Islam”, salah satu dari sekian cabang Iman, diputar balik
menjadi pokok atau batangnya sehingga menjadilah sejenis pohon ajaib yaitu pohon kehidupan berakar
tunggang dengan cabang dan rantingnya dan berpucuk dengan akar tunggangnya.

*. Hubungkan dengan Surat An-Nahl ayat 78 dengan kesimpulan surat Al-Balad ayat 8-10*.
👌 *Ingat kembali Hadits : “Alaa Inna fil Jasadi “.*
👌 *Bandingkan dengan Surat Ibrahim ayat 26, Surat Thaha ayat 120.*

Konsekwensi yang lebih jauh, untuk melogiskan “Iman=Percaya”-nya, maka sistematik “Iman” satu
klasifikasi dan spesialisasi Alquran menurut sunnah Rasul menjadi “Iman (dalam arti sempit), Islam,
Ihsan dan Sa’ah”
digusur pula menjadi Tauhid, Fiqih, Ahlaq dan Tasauf. Akibatnya, tidak urung pula mengenai tanggapan yaitu terjemahan Alquran-Hadits, maka Alquran – Sunnah Rasul sebagai “Hudan
lil Muttaqin” hampir-hampir tidak fungsional dalam kenyataan hidup ini. Kesemua ini otomatis
merusak Nilai dan Harga Iman.
👌Hadits Jibril
👌Surat Al-Baqarah ayat 2 .

Akhirnya dari pembuktian Ruang Lingkup Iman tersebut diatas perlu diperhatikan bahwa
Perkataan IMAN itu sendiri belum bernilai dan berharga sebelum dia dihubungkan dengan sesuatu yang
lain.

💥 *SESSION-III*💥

*3. Nilai dan Harga Iman*
Dimaksud dengan Nilai menurut istilah Ekonomi ialah kemampuan membikin sesuatu sedemikian
rupa, dus berarti Nilai adalah Kemampuan. Misalnya, satu liter beras mampu menghilangkan laparnya
dan atau membikin menjadi kenyangnya dua orang dalam satu waktu tertentu. Dan Nilai, sifatnya berlaku
OBYEKTIF yaitu tidak tergantung kepada mau dan atau tidak maunya manusia terhadap yang demikian,
yakni suka dan atau tidak sukanya manusia, maka ujudnya seperti, beras adalah bernilai yaitu mempunyai
KEMAMPUAN yang demikian, dan TETAP berlaku demikian. Dengan demikian maka seperti contoh
beras tersebut, mengandung sajian ALTERNATIF OBYEKTIF.
Dan adapun masalah Harga, juga menurut istilah Ekonomi ialah jumlah yang orang bersedia
mengorbankannya untuk mendapatkan nilai.

Misalnya, seorang mengorbankan uang sebanyak Rp.7000,- kepada pedagang beras dimana dia
mendapatkan satu liter beras; jadi uang tersebut berfungsi sebagai “alat penukar”, yaitu hanya berharga
tetapi harga itu sendiri tidak mengandung nilai yang dimaksud diatas.
Misalnya, seorang memakan lembaran uang yang berharga tujuh ribu rupiah itu saja maka yang demikian itu tidak akan mampu menghilangkan laparnya dan atau membikin kenyang seseorang dalam satu waktu tertentu.
Dari itu maka *“HARGA” hanyalah Pengganti “NILAI”* dan sifatnya berlaku SUBYEKTIF
yaitu tergantung kepada suka dan atau tidak sukanya manusia. Dengan demikian maka seperti contoh,
pembelian beras tersebut diatas, mengandung ALTERNATIF SUBYEKTIF.

Jadi *“Nilai Iman”* ialah kemampuan isi Iman untuk membikin pendukung/penyanjungnya menjadi menurut apa yang digambarkan oleh isi/materi “Iman” yakni Alquran menurut Sunnah Rasul yaitu
: *“Didunia Hasanah dan diakhirat Hasanah”*.
Sebaliknya *“Harga Iman”* ialah jumlah yang harus dikorbankan untuk mendapatkan Iman atau menjadi Mukmin, yaitu mengorbankan segenap dirinya (Nafsun, jamaknya = Anfus atau
Subyektivisme) dan segenap harta kekayaannya menjadi milik Allah, sehingga dia menjadi hamba
atau pengabdi kehidupan menurut petunjuk Allah yakni Alquran menurut sunnah Rasul-NYA untuk mencapai Jannah atau Hasanah*.
Dan orang yang demikian dinamakan Mutawakkilun** dan Allah berfungsi sebagai “Wakilun”
*** atau “Waliyyun”****.

*Hubungkan dg :*
*. Surat Al-Baqarah ayat 201, Surat An-Nahl ayat 122, yang berkaitan dengan Surat Bani Israil ayat 7 dsb.
. Surat At-Taubah ayat 111 dalam kaitan Surat An-Nahl ayat 7, dsb.
*. Surat Ali Imran ayat 122 dan 160, Surat Yusuf ayat 67, Surat Ibrahim ayat 12, Surat Az-Zumar ayat 38, dsb
****. Surat Al-Baqarah ayat 257, Surat Ali Imran ayat 68, Surat An-Nisa’ ayat 44 dan 80, 131 dan 170, Surat Al-An-Am ayat 102, Surat Bani
Israil ayat 85, dsb.

📕Diatas sudah dibuktikan bahwa Iman ialah Pandangan dan Sikap Hidup. Pandangan dan Sikap Hidup dengan apa ? atau menurut apa ?, perkataan Iman itu sendiri tidak mampu menjawab pertanyaan
demikian kecuali jika dia dihubungkan dengan perkataan lain. Artinya, Nilai dari perkataan Iman belum berharga kecuali dia digandeng dengan sesuatu yang lain yaitu ajaran atau ilmu.
Dan sebagai bukti dapat kita ajukan antara lain Surat Al-Baqarah ayat 4, demikian :

وَالَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِمَۤا اُنْزِلَ اِلَيْكَ وَمَاۤ اُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ ۚ وَبِالْاٰخِرَةِ هُمْ يُوْقِنُ
Artinya :
“(Yang dinamakan Muttaqin) yaitu yang hidup berpandangan dan bersikap dengan yang telah
diturunkan menurut Sunnah anda& (Al-Quran menurut Sunnah Muhammad SAW), yakni yang sama dengan yang telah diturunkan menurut Sunnah Rasul-Rasul sebelum Sunnah anda, dengan mana mereka meyakini mencapai tujuan terakhir (hasanah didunia dan hasanah diakhirat) dalam keadaan
bagaimanapun“.
&. Hubungkan dengan Surat Asy-Syura ayat 13, Surat Al-A’laa ayat 18-19, dsb.
&&. Kadang-kadang perkataan “Iman” ini dihubungkan dengan kata sandang “Billah, Minallah, ‘Alallah, Ilaallah”, kesemuanya berarti
“Menurut Allah” yaitu Alquran menurut sunnah Rasul-NYA.
Dengan pembuktian ini menjadi jelas bahwa Nilai dan Harga dari perkataan Iman ditentukan oleh “….yang telah diturunkan menurut Sunnah anda (Muhammad SAW) yaitu Al-Quran menurut Sunnah Rasul-NYA”.

Sebaliknya Al-Quran memberi Nilai dan Harga kepada Iman ini tidak saja, hanya dengan Al-Quran menurut Sunnah Rasul saja. tetapi bahkan dengan sembarang ajaran apapun.

Sebagai bukti untuk yang demikian dapat kita ajukan antara lain Surat Al-Ankabut ayat 52 menegaskan
demikian :

قُلْ كَفٰى بِاللّٰهِ بَيْنِيْ وَبَيْنَكُمْ شَهِيْدًا ۚ يَعْلَمُ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ ؕ وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا بِالْبَاطِلِ وَكَفَرُوْا بِاللّٰهِ ۙ اُولٰٓئِكَ هُمُ الْخٰسِرُوْن
Artinya :
“(Tegaskan, hai Muhammad/ orang beriman) : “Cukuplah Allah, dengan pembuktian Al Quran menurut Sunnah Rasul-Nya, menjadi pemberi kesaksian diantara saya yang hidup berpandangan dan bersikap dengan Al-Quran menurut Sunnah Rasul-Nya dan kalangan kalian yang hidup berpandangan
dan bersikap dengan Dzulumat menurut Sunnah Syayathin, DIA (Allah), dengan Al-Quran menurut
Sunnah Rasul-Nya, yang meng-ILMU-i segala kehidupan organis dan biologis dan begitu kehidupan
social/budaya. Dan mereka yang hidup berpandangan dan bersikap dengan ajaran bathil, yaitu
mereka yang bersikap negatif terhadap ajaran Allah (Al-Quran menurut Sunnah Rasul-Nya) niscaya,
mereka yang demikian adalah yang hidup rugi/perusak kehidupan dimana sajapun”.
Arti “Ajaran bathil” oleh Surat Nisa’ ayat 51 menjelaskan demikian :

اَلَمْ تَرَ اِلَى الَّذِيْنَ اُوْتُوْا نَصِيْبًا مِّنَ الْكِتٰبِ يُؤْمِنُوْنَ بِالْجِبْتِ وَالطَّاغُوْتِ وَيَقُوْلُوْنَ لِلَّذِيْنَ كَفَرُوْا هٰٓؤُلَۤاءِ اَهْدٰى مِنَ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا سَبِيْلًا
Artinya :
“Tidakkah kalian melihat, dengan pembuktian Al-Quran menurut Sunnah Rasul ini, terhadap mereka
yang telah mendapat nasib kehidupan sial dari para ahli kitab*, mereka hidup berpandangan dan
bersikap menurut ajaran Idealisme dan Naturalisme** dengan mana mereka berkata kepada, yang atas
pilihan Dzulumat menurut Sunnah Syayathin, bersikap negative terhadap ajaran Allah menurut Sunnah
Rasul-Nya, bahwa dibanding dengan mereka yang hidup berpandangan dan bersikap dengan ajaran Allah
menurut Sunnah Rasul-Nya, mereka itu memiliki system kehidupan yang lebih ilmiah adanya”.

*. Hubungkan a.l dengan Surat Al-Baqarah ayat 79, 83-86, Surat Bani Israil ayat 4-7, dsb

Dari itu maka semua yang aduk-adukan, yang menganggap bahwa budaya itu adalah Pancaran Jiwa maka kita golongkan kedalam pola Idealisme.
**. Hubungkan dengan antara lain Surat Ali Imran ayat 14 dengan kesimpulan “Mataa’ul Hayaatid Dunya”, Surat Al-An-‘Am ayat 29, Surat
Jatsiyah ayat 23, dsb.

📕Lebih lanjut arti “Thaaghut” yang kita terjemahkan menjadi Naturalisme oleh Surat Al-Baqarah ayat 257 menjelaskan demikian :

اَللّٰهُ وَلِيُّ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا يُخْرِجُهُمْ مِّنَ الظُّلُمٰتِ اِلَى النُّوْرِ ؕ وَالَّذِيْنَ كَفَرُوْۤا اَوْلِيٰٓــئُهُمُ الطَّاغُوْتُ ۙ يُخْرِجُوْنَهُمْ مِّنَ النُّوْرِ اِلَى الظُّلُمٰتِ ؕ اُولٰٓئِكَ اَصْحٰبُ النَّارِ ۚ هُمْ فِيْهَا خٰلِدُوْنَ
Artinya :
“Allah, dengan pembuktian Al-Quran menurut Sunnah Rasul-Nya, adalah pembimbing mereka yang hidup berpandangan dan bersikap menurut yang demikian, yang membebaskan mereka dari
pengaruh Dzulumat menurut Sunnah Syayathin menuju kehidupan NUR (Al-Quran) menurut Sunnah Rasul. Sebaliknya mereka yang, atas pilihan Dzulumat MSSY, bersikap negative terhadap ajaran Allah menurut Sunnah Rasul-Nya maka pembimbing mereka itu adalah Thaaghut/Naturalisme yaitu yang memutar balik pandangan mereka dari NUR MSR menuju pandangan Dzulumat menurut Sunnah Syayathin. Mereka yang demikian itu adalah pendukung kehidupan yang bagaikan si Jago-Merah memusnahkan segala dimana mereka terus menerus demikian dalam keadaan bagaimanapun”.

Dengan demikian maka Al-Quran menurut Sunnah Rasul menggolongkan “Nilai dan Harga”
kepada perkataan Iman menjadi dua golongan yaitu yang bernilai dan berharga NUR MSR dan
DZULUMAT MSSY. Hal mana dengan lain perkataan oleh Surat Bani Israil ayat 9 s/d 11 menjelaskan
masing-masing menjadi demikian :

اِنَّ هٰذَا الْقُرْاٰنَ يَهْدِيْ لِلَّتِيْ هِيَ اَقْوَمُ وَ يُبَشِّرُ الْمُؤْمِنِيْنَ الَّذِيْنَ يَعْمَلُوْنَ الصّٰلِحٰتِ اَنَّ لَهُمْ اَجْرًا كَبِيْرًا
Artinya :
9) “Sesunggunya Al-Quran menurut Sunnah Rasul ini memberi pedoman kearah satu kehidupan
lebih tangguh yaitu menghamparkan satu kehidupan riang gembira untuk MUKMIN dimana
mereka membangun satu kehidupan yang tepat menurut yang demikian (Al Quran menurut Sunnah Rasul-Nya). Bahwa bagi mereka yang demikian adalah satu imbalan kehidupan agung
tiada tara”*.

*. Hubungkan dengan Surat Ali Imran ayat 64 “Kalimaatin Sawaa-in” dalam bentuk kongkritnya adalah “Kal Jasadi”.

وَّاَنَّ الَّذِيْنَ لَا يُؤْمِنُوْنَ بِالْاٰخِرَةِ اَعْتَدْنَا لَهُمْ عَذَابًا اَلِيْمًا
10) “Dan sesungguhnya yang tidak mau hidup berpandangan dan bersikap menurut ajaran Allah, Al
Quran menurut Sunnah Rasul-Nya dalam mencapai satu tujuan terakhir**, niscaya KAMI, bagi
mereka yang demikian, atas pilihan Dzulumat MSSY, akan menimpakan satu kehidupan adzab
lagi pedih tiada tara”.

. Ingat kembali Surat Al-Baqarah ayat 201 dengan kesimpulan surat Al-Kautsar ayat 1.
وَيَدْعُ الْاِنْسَانُ بِالشَّرِّ دُعَآءَهٗ بِالْخَيْرِ ؕ وَكَانَ الْاِنْسَانُ عَجُوْلًا

11) “Dan manusia (terhadap alternatip-objektip dari Al-Quran menurut Sunnah Rasul ini)
dipersilahkan melakukan alternatip-subjektip dengan Dzulumat MSSY satu kehidupan celaka atau dengan NUR MSR satu kehidupan bahagia! Dan adalah manusia itu keburu nafsu dalam pilihan
hidupnya”
Dengan demikian maka “Nilai dan Harga Iman” diperinci menjadi Iman yang bernilai dan berharga NUR (Hasanah) yaitu Al-Quran menurut Sunnah Rasul-Nya, dan Iman yang bernilai dan
berharga Bathil *(Syayyiat)* yaitu penyalahgunaan dan atau aduk-adukan DZULUMAT menurut Sunnah Syayathin.
*. Surat Al-Baqarah ayat 168-169, dsb

Dan Surat Al-Bayyinah ayat 1 membuktikan tentang penyalahgunaan ini demikian :

لَمْ يَكُنِ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا مِنْ اَهْلِ الْكِتٰبِ وَالْمُشْرِكِيْنَ مُنْفَكِّيْنَ حَتّٰى تَأْتِيَهُمُ الْبَيِّنَةُ
Artinya :
“Tidak adalah mereka yang, atas pilihan Dzulumat MSSY, melakukan berbagai pandangan dan sikap negative terhadap ajaran Allah MSR-Nya yang terdiri dari para Ahli Kitab dan pendukung
Naturalisme (yang hidup dualisme dengan Dzulumat MSSY). Kecuali menjadi penyalahgunaan dan atau
pengaduk Dzulumat MSSY, setelahnya kepada mereka itu datang satu pembuktian ILMI-ah menurut Sunnah Rasul yang demikian fatah/nyata”*.

*. Hubungkan dengan Surat Al-Baqarah ayat 75, 213, Surat Ali Imran ayat 105, Surat Asy-Syura ayat 14, Surat Jatsiyah ayat 16, dsb.

Dengan demikian menjadi terbuktilah bahwa “Nilai dan Harga Iman” ialah pandangan dan sikap hidup dengan ajaran Allah, Al-Quran menurut Sunnah Rasul-Nya, dan atau dengan ajaran-ajaran lain, selain Al-Quran menurut Sunnah Rasul-Nya (Bathil).

Dan arti dari “Nilai Iman” disini ditekankan kepada Ilmu atau Ajaran seperti halnya ILMU atau Ajaran Allah yakni Alquran, yang mampu membangun pendukungnya kedalam posisi yang dijanjikannya yaitu “Hasanah fiddunya dan Akhirat”. Sebaliknya Ilmu dan ajaran-ajaran Bathil menjerumuskan
pendukungnya kedalam kehidupan jahat.
Dan “Harga Iman” disini ditekankan kepada “Sunnah Rasul” dan yang mendukungnya,
yaitu jumlah yang telah dikorbankan oleh para Rasul dan yang beriman bersamanya dalam keseluruhan
hidupnya, dan atau “Menurut Sunnah Syayathin”, yaitu jumlah yang telah dikorbankan oleh mereka yang
mendukung LAKNAT ALLAH yakni untuk kerusakan diri dan kehancuran materi dalam segenap
kehidupannya***.

*Hubungkan dg :*
. Surat Al-Fath ayat 29
*. Bandingkan dengan semboyan terkenal : “Perjuangan adalah Pengorbanan”

Adapun sifat dan jenis dari jumlah pengorbanan ini sebagai “Harga Iman” oleh Surat At-Taubah ayat 111 menegaskan demikian :
اِنَّ اللّٰهَ اشْتَرٰى مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ اَنْفُسَهُمْ وَاَمْوَالَهُمْ بِاَنَّ لَهُمُ الْجَــنَّةَ ؕ يُقَاتِلُوْنَ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ فَيَقْتُلُوْنَ وَ يُقْتَلُوْنَ ۙ وَعْدًا عَلَيْهِ حَقًّا فِى التَّوْرٰٮةِ وَالْاِنْجِيْلِ وَالْقُر

ْاٰنِ ؕ وَمَنْ اَوْفٰى بِعَهْدِهٖ مِنَ اللّٰهِ فَاسْتَـبْشِرُوْا بِبَيْعِكُمُ الَّذِيْ بَايَعْتُمْ بِهٖ ؕ وَذٰ لِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيْمُ  
Artinya :
“Sebenarnya Allah dengan pembuktian Al-Quran menurut Sunnah Rasul-Nya, telah membeli dari
Mukmin (yang berpandangan dan bersikap dengan Al-Quran menurut Sunnah Rasul) dirinya (termasuk
keakuannya) dan segenap harta kekayaan yang dimilikinya (menjadi milik Allah) dengan bahwa untuk mereka yang demikian itu adalah satu kehidupan yang bagaikan TAMAN merindangkan panennya (JANNAH), dimana mereka siap tempur untuk ketahanan penataan ajaran Allah (Al-Quran) menurut Sunnah Rasul-Nya, sehingga mereka mampu membunuh dan sedia dibunuh merupakan satu ikatan janji
menurut-Nya, yang secara objektif tersebut didalam Taurat menurut Sunnah Musa, didalam Injil menurut Sunnah Nabi ‘Isa, dan didalam Al-Quran menurut Sunnah Nabi Muhammad saw. Dan siapa yang telah
menyempurnakan Imannya, Menjadi satu ikatan janji dengan ajaran Alah (Al-Quran) menurut Sunnah Rasul-Nya (Piagam Aqabah kedua), maka gembirakanlah mereka, sesuai dengan yang kalian menjanjikan
mereka dengan Al-Quran menurut Sunnah Rasul, menjadi satu ikatan perjanjian diantara kalian (Piagam
Yastrib). Dan yang demikian itu adalah DIA (Allah) dengan Al Quran menurut Sunnah Rasul ini, Pembina
kehidupan menang tiada tanding”.

📕Dengan demikian, dari hasil pembuktian “Nilai dan Harga” IMAN maka terbukalah jalan untuk
memberi definisi tentang Iman yang mendekati secara objektif.

*4. Definisi Iman*
Berdasarkan pembuktian-pembuktian Tata Bahasa, Ruang Lingkup Iman, serta Nilai dan Harga
Iman maka kita tarik definisi IMAN menjadi sebagai berikut :

*1. IMAN, secara umum*, ialah pandangan dan sikap hidup dengan ajaran Allah (Al-Quran) menurut Sunnah Rasul dan atau dengan ajaran-ajaran selain Al Quran menurut Sunnah Rasul yakni menurut Sunnah Syayathin. Dan orang yang
demikian dinamakan MUKMIN.
Hubungkan dengan Surat Maryam ayat 84, Surat Al-Baqarah ayat 168, 208, Surat Al-An-‘Am ayat 142, Surat Nur ayat 21 dalam kaitan dengan Surat Al-A’raf ayat 14, Surat Al-Hijr ayat 37, dsb.

*2. IMAN, secara khusus*, ialah pandangan dan sikap hidup dengan ajaran Allah (Al Quran menurut Sunnah Rasul) dinamakan IMAN yang Haq. Dan orang yang demikian dinamakan *MUKMIN HAQ*, artinya MUKMIN yang objektif dengan Al�Quran menurut Sunnah Rasul-Nya. Sebaliknya pandangan dan sikap hidup dengan
ajaran-ajaran selain Al Quran menurut Sunnah Rasul yakni menurut Sunnah
Syayathin ialah *IMAN BATHIL atau KUFUR.* Dan orang yang demikian dinamakan Mukmin Bathil atau kafir.
Surat Al-Baqarah ayat 119, 213, Surat Ali Imran ayat 2, 86, dsb.

Untuk mudahnya maka arti dan structural (bangunan) IMAN dimaksud diatas, baik secara umum
maupun secara khusus, kita tuang dalam bentuk sket segitiga sama sisi sebagai berikut.   
*LIHAT SKET

💥 *SESSION-IV*💥

*Keterangan Sket session-III :*
1) A = Allah, Perancang dan Pemasti kehidupan ( Qaadirun ).

2) B = Kenyataan hidup Nabi Muhammad, Rasulullah, pola atau bentuk contoh kehidupan dari
ajaran Allah.
Hubungkan dg Surat Ahzab ayat 21, Surat Mumtahinah ayat 4, 6, dalam kaitan dengan syahadah kedua :”Wa Asyhadu anna Muhammadan
‘abduhu wa Rasuluhu”.

3) B1= Al Quran yang belum menyentuh kesadaran manusia.

4) B2 = Kenyataan hidup Mukmin yang objektif dengan Al Quran menurut Sunnah Rasul, yang
oleh Nabi Muhammad menyatakan : “… sahabatku di dalam Jannah”.

5) C = Kenyataan Alam Organis, Biologis dan gaya yang tergantung kepada Allah SWT.

6) ABC = ( yang terperinci menjadi AB1C dan AB2C ) adalah NUR menurut Sunnah Rasul yaitu
Pantulan Terang dari Al-Quran menurut Sunnah Rasul, NURUN ‘ALA.
Ingat Surat Nur ayat 35 .

7) BE1C, BE1D, CE1E = Dzulumat yang obyektip dari Allah dan oleh karena semua nabi-nabi tidak mau maka yang demikian tidak ada sunnahnya kedalam satu kehidupan nyata, hanya bayangan =
Pantulan Gelap, dinamakan NURIN.
Dalam kaitan dengan not nomor 6), hubungkan dengan Surat Al-Baqarah ayat 17-20, Surat Al-An’am ayat 1, Surat Yasin ayat 37- 40, dsb.

8) BD = Dzulumat dalam arti bayangan yaitu Pantulan Gelap yang bertolak belakang dengan
Pantulan Terang, dinamakan NURIN.

9) BE1D = Sudut memandang Dzulumat yang objektif dari Allah menurut Sunnah Rasul-Nya, yang
diputar balik dan ditumpang tindih diatas BE1C dengan teriakan “Haadza min ‘indillah”, adalah salah satu sunnah syayathin, melalui method defect, menjadi aduk-adukan Nur-Dzulumat (BE!D
atau ABC yang ditelungkup diatas BE1C) dalam bentuk Kadzaba sehingga menjadi model
ketiga, dengan nama Idealisme.
Lihat Surat Al-Baqarah ayat 78-79, 85 dan Surat Yasin ayat 14.
Surat Yasin ayat 14 dan kaitkan dengan Surat Al-Maidah ayat 73, Surat At-Taubah ayat 118, Surat Az-Zumar ayat 6, Surat Al-Mursalat ayat 30, dsb.

10) Sebaliknya BDE1 ialah Sunnah Syetan, Laknatullah wal Malaaikah wan Naasi Ajma’iin. ( Surat Al-Baqarah ayat 161).

11)BE1C = Salah satu alternative, secara d’efect, menjadi aduk-adukan, pandangan NUR-Dzulumat
(ABC-BE1D), dalam bentuk Kadz-dzaba menjadi model ketiga yaitu IDEALISME.

12) CE = Dzulumat ialah bayangan yaitu Pantulan Gelap dari Kenyataan Alam.

13) CE1E = Sudut memandang Dzulumat secara objektif ILMI-ah dengan Al-Quran menurut Sunnah Rasul, yang diputar balik dan ditumpang tindih diatas BE1C dengan teriakan “hasil penemuan sendiri”, adalah sunnah syayathin yang lain lagi, melalui method empiris atau reflex
menjadi dalam bentuk Tawalla (CE1E yang digeser menjadi diatas BE1C) ialah model Bathil dengan nama Naturalisme.
Ingat Surat An-Nisa ayat 51, Surat Al-Ankabut ayat 52, dsb.

14)EE1C = Salah satu alternative lain, secara reflek, dalam bentuk Tawalla CE1E menjadi semodel Bathil.

15)E1C = Hasil penyalahgunaan Dzulumat, aduk-adukan NUR-Dzulumat (ABC-BE1D) menjadi BE1C dan atau penyelewengan pandangan Dzulumat (CE1E) menjadi EE1C, keduanya menjadi
semodel Bathil.

16) DE1 dan EE1 = Segala daya upaya penyalahgunaan Dzulumat, aduk-adukan dan atau
penyelewengan (maling) Dzulumat menjadi Bathil ( E1C ), dinamakan Sunnah Syayathin atau Khutuwatisy Syaithaan. ( Surat Al-Baqarah ayat 168 dan 208 ).
Lihat Surat Al-Baqarah ayat 168, 208, Surat Al-An’am ayat 142, Surat An-Nur ayat 21, Surat Maryam ayat 64 dalam hubungan
dengan Surat Al-A’raf ayat 13, Surat Hijr ayat 37 dan Surat Shad ayat 80.

Sket segi tiga sama sisi ABC dalam segi tiga sama sisi ADE, dengan perinciannya adalah terjemahan Surat Ali Imran ayat 64, 103 dan 112.

17)E1 = Hasil penyalah gunaan Dzulumat (BD) bathil (aduk-adukan dari Idealisme dan atau Naturalisme) yang didukung oleh kenyataan hidup bathil.

📕Untuk lebih mempertajam arti sudut BE1C (aduk-adukan NUR-Dzulumat menurut Sunnah Syayathin) dan atau sudut EE1C (penyelewengan Dzulumat menurut Sunnah Syayathin) menjadi satu
Qadar atau Taqdir-Syar atau “arbaban minduunillaah”
(Surat Ali Imran ayat 64).
Ingat Hadits “Qadruhu Khairuhu wa Syarruhu minallah” kaitkan dengan Surat Al-An’am ayat 91, 96, dsb.

Selanjutnya mari kita petik Surat Al-Hijir ayat 43 dan 44, demikian :

وَاِنَّ جَهَـنَّمَ لَمَوْعِدُهُمْ اَجْمَعِيْنَ ۙ 
43. “Maka sesungguhnya Jahannam adalah benar-benar menjadi tempat kepastian mereka yang
berpandangan dan bersikap Dzulumat menurut Sunnah Syayathin semuanya”.

لَهَا سَبْعَةُ اَبْوَابٍ ؕ لِكُلِّ بَابٍ مِّنْهُمْ جُزْءٌ مَّقْسُوْمٌ 
44. “Ujudnya itu (Jahannam) adalah sejenis bangunan bertingkat tujuh dimana masing-masing
tingkatannya itu adalah bagian golongan tertentu”.
Dan untuk mudahnya maka Qadar atau Taqdir-Syar (Rancangan kehidupan Jahat/Jahannam) ini kita
sket sebagai berikut :
👇 👇

Incoming search terms:

  • depinisi riba yang gimana
Be Sociable, Share!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *